Category: PUISI
-
|Puisi| Kapsul Kehidupan
Oleh: D’Hamdan.M Sedasawarsa sering meniti, dari bibir ke bibir umat manusia, di tiap empat penjuru dunia, di tiap lara yang menerpa. Banyak qalbu terpedaya, solusi segala lara wang semata, itulah kata mereka! Anak bangsa dijajah berfalsafah harta. Mentari terbenam di waktu sore, usia tua menerpa, mereka terjaga dari tidur lena, kaki mula melangkah…
-
|Puisi| Cinta dan Lucu
Oleh: Mohd Rosyaidi Cinta itu agak lucu juga kadang membuatkan diri jadi kosong kadang membuatkan diri seperti butir pasir di pantai agak luar biasa lucunya. Cinta dan lucu itu tidak terpisahkan tidak selalu akan berasa bahagia oleh cinta tidak juga selalu akan berasa derita kerana cinta lucunya cinta itu tidak terdugakan. Persoalan…
-
|Puisi| Pantai Tidak Kosong (Tribute : Tsunami Selat Sunda, Dis 2018)
Oleh: Yeyen Khoo Menjadi pantai, diamnya didatangi, tidak diatur untuk berhias, semula jadi mendamaikan. Menjadi pantai, tenang-tenangan, fikiran polos tiada merimaskan, menjadi kenangan buat Si Pengenang. Menjadi pantai, tidak lekang sama angin, sepoi-sepoi buat didodoikan, tertidur terlena dalam keringanan. Menjadi pantai, sumber rezeki tanpa bayaran, lubuk utama jadi pilihan, buat dihidupkan yang hampir bulur. Menjadi…
-
|Puisi| Bicara Untuk Bungkam
Oleh: Mohd Rosyaidi Melulu mereka berbicara berlian dan emas ingin dikotakan sebelum berada di atas acara demi rakyat yang kononnya disengsarakan. Merdu suara mereka berlagu mendendangkan lirik-lirik lunak mohon simpati demi kedudukan yang diradu rakyat kononnya di hati. Ubah, ubah, ubah! kalimat yang tidak serik dilaungkan sebelum kekuasaan berubah supaya bisa dinaikkan.…
-
|Puisi| Firman Cinta
Oleh : MoonGulam Cinta tahfifah Allah untuk menetas kasih dan takwa. seperti Rasulullah cinta umatnya seperti Nuh cinta anaknya seperti Zulaikha cinta kekasihnya lalu, kenapa aku terkunci dalam stereotaip cinta? diskriminasi rasa! Kusingkap tirai, meraba sebuah kepastian kepastian yang ku inginkan, namun angin yang menerpa kepastian yang ku harapkan, namun gerimis yang menyapa…
-
|Puisi| Hikayat Pujangga yang Terpaksa
Oleh: Rien Sd Saya terjatuh ke dalamnya, menguak langsir di celah kelangkang, menutupi segala kebohongan dengan pujangga yang rangkap-rangkapnya sekemas rima, sebatang sungai kecil yang mengalir di alur pemikiran, merembes di tebing perasaan yang tergusur banyak kekunci musik menyusur, dari buluh kegundahan lalu menyumbat rebungnya. Sesekali penyair itu hanyir, jampi serapahnya basi tak lut disua…
-
|Puisi| Arloji Abadi
Oleh: D’Hamdan.M Arloji abadi? Tanyanya, peniti arloji itu berdetik, memamah lewat usia senjanya, merubah rupa fisiknya, namun ingatan itu berlayar utuh di benak, bermain-main di kolam ingatannya, dia mendongak, awan-awan hitam memenuhi ruang pandangnya, seakan berkongsi rasa hati tua itu, menjentik nakal relung ingatan itu, mengundang hiba, mengundang lara, dalam pinggir pinggir kesedihan, dalam bungkamnya…
-
|Puisi| Hayatiku
(Ilham Van Der Wijck) Oleh: Yeyen Khoo Menelusuri perjalanan seorang wanita yang jauh di persimpangan Makassar menjengah senja dalam kekalutan hati mengimbau kisah silam untuk diperkenankan semata kerana pengabdian cinta “Apakah takdir yang kau jeritkan?” sedang kepiluanmu itu adalah pilihan dukamu sendiri masa silammu itu adalah lorong laluanmu bersama kemahuan. Hayatiku, pada dirimulah aku menemui…
-
|Puisi| Untuk Sudan
Oleh: Melur dan Bias Langit sudah terang jingga di sini terduduk saya selalu kita menengok-jaga hati untuk siapa yang kita punya terlenyak jua apakah buta tidak punya hati jiwa tapi dia hitam tapi dia miskin tapi dia anak peleseran di dalam sepi nafas terhenti langit hari ini wajah apa aku di sini diam tertanya pernah…
-
|Puisi| Lautan Hutan Konkrit
Oleh: Mohd Rosyaidi Mata nikmatilah pandangan yang gah dengan kebanggaan berdirinya pokok-pokok segak berbatangkan simen-simen Mata nikmatilah sungguh nian pemandangan jalan-jalan dihiasi rimbunan pokok beruratkan dawai-dawai besi Mata nikmatilah dengan terpegunnya melihat pantulan-pantulan cahaya daripada daun-daun pokok bersalutkan kaca-kaca. Oi manusia! Berbanggalah dengan teguhnya berdiri tumbuhan konkrit yang menjadi mercu kemajuan dan pembangunan alam kini…